AGRESI ISRAEL SEBAGAI KEJAHATAN AKUMULATIF

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Krisis Timur Tengah yang dipicu oleh agresi Israel atas Libanon, Plaestina dan jalur Gaza sungguh di luar pri-kemanusiaan. Sejak dua minggu yang lalu, sejak tanggal 10 Juli 2006, Israel melakukan serangan melalui laut dan udara untuk menghancurkan markas Hizbullah dan Hamas yang bermukim di Libanon. Bentuk bencana kemanusiaan yang dimotivasi oleh kepentingan dan kebutuhan materiel kekuasaan politik dan ekonomi. Sehingga, bencana kemanusiaan terkadang menimbulkan penderitaan yang jauh lebih ganas dan mengerikan.

Krisis yang terjadi di Timur Tengah telah mengundang kegusaran masyarakat internasional. Israel sebagai subyek hukum internasional melakukan agresi militer atas Palestina dan Libanon merupakan kejahatan akumulatif. Sejak minggu lalu, 10 Juli 2006, serangan Laut dan udara terus dilancarkan berakibat ratusan warga sipil telah tewas dan luka-luka. Ribuan orang menjadi pengungsi telah sehingga korban kebiadaban serangan tentara Zionist. Tak pelak, hampir seluruh wakil-wakil negara asing di Libanon dan Palestina hengkang untuk keluar dari wilayah yang terancam peperangan. Wakil diplomatik untuk RI juga telah dievakuasi. Dalam hubungan negara-negara yang beradab, timbul pertanyaan, apakah agresi Israel atas Palestina dan Libanon dapat dipandang sebagai upaya penggunaan hak membela diri (self-defence) ?

Di satu pihak, klaim Ehud Olmert, Perdana Menteri Israel, serangan nuklir dipandang sah dan mendapatkan pembenaran secara hukum. Resolusi No.1559 DK-PBB tentang sruan pembebasan penculik sebagai sandarannya. Hamas dan Hizbullah yang menculik 2 orang tentara Zionist secara de facto dipergunakan alasan pembenaran bagi tindakan balas dendam. Bahkan PBB juga membenarkan tindakan mengingat Libanon tidak menghiraukan tuntutan Israel untuk mengembalikan dua orang serdadu yang diculik tersebut.

Persoalannya adalah apakah tindakan tersebut cukup lazim dalam kode etik hubungan bernegara. Serangan Israel atas Libanon dan Palestina akhir-akhir ini, tidak dapat dipandang sebagai hak penggunaan bela diri (right for self defence). Justru Israel telah melakukan kejahatan akumulatif atas serangan balik dan pembalasan terhadap kasus penculikan dua orang serdadu Zionist oleh Hizbullah dan Hamas. Bilamana melihat fakta reaksi masyarakat internasional terhdap tindakan Israel, sesungguhnya hanya sedikit negara yang dapat membenarkan tindakan agresi militer tersebut.

Pertama, pelanggaran Israel adalah tindakan agresi yang tidak mematuhi kewajiban atas hukum internasional, khususnya Piagam PBB Pasal 2 (ayat 4). Mestinya, Israel sebagai subyek Hukum Internasional mestinya menahan diri untuk tidak melakukan agressi militer atas kasus penculikan dua orang serdadu. Seharusnya, negosiasi dan perundingan menjadi alat penyelesaian sengketa yang diutamakan. Adapun posisi Libanon menjadi korban persis dengan penderitaan Afganistan tahun 2002. Tatkala Afganistan tidak menyerahkan Osamah bin Laden, AS dan sekutunya menggempur Afganistan. Pencarian Osama adalah terkait dengan dugaan kejahatan teroris atas tragedi 11 September 2001 di WTC.

Kedua, pelanggaran atas Geneva Convention 1947 tentang peperangan. Israel sebagai negara moderen tidak memberikan pengumuman resmi atas tindakan militer ke Libanon. Sehingga tidak ada waktu bagi Libanon untuk mempersiapkan diri. Apakah menghindar ataukah melakukan perlawanan secara berimbang. Jika memang dua serdadu Zionist itu ditahan oleh Hizbullah itu benar bermarkas di Libanon, maka tindakan Israel semestinya harus mempertimbangkan asas kesimbangan (proporsionality), dan asas kepentingan yang mendesak (Necessity). Diculiknya dua orang serdadu Zionist tidak dapat dijadikan pembenaran bagi serangan agresi militer yang berlebihan.

Tindakan tersebut dipandang sangat berlebihan karena wilayah yang menjadi penggempuran bom dan senjata roket adalah wilayah pemukiman atau wilayah bukan target militer (Non-Military Obyect). Ratusan warga sipil tewas, ribuan pengungsi dan juga fasilitas umum turut hancur. Sebaliknya, kota Haifa tersebar ketiga di Israel terus menjadi serangan Hizbullah dan Hamas. Tentu saja, Israel itupun membalas dengan membabi buta. Menurut Christian Gray (The Use of Force and The International Legal Order 2003: 594), seorang pakar dari Cambridge University, Inggris, menegaskan bahwa penggunaan Pasal 2 (4) tidak efektif. Tidak kurang dari 100 sengketa bersenjata dan telah menelan korban 20 juta orang. Tidak mengherankan tindakan ini akan memicu konflik di Timur Tengah akan lebih eskadatif.

Ketiga, Tindakan Israel dipandang sebagai kejahatan kemanusiaan (crime against humanity) dan kejahatan agresi (crime of aggression). Praktek penggunaan senjata membabi buta tanpa ada sasaran yang jelas adalah jelas bertentangan dengan HAM. Sekiranya Israel menempatkan Hamas dan Hizbullah sebagai terorisme yang harus dibasmi, maka sesungguhnya secara sengaja dan niat tergolong pada kejahatan genocide. Kondisi ini jelas melanggar HAM Statuta Roma 1998. Para pemimpin Israel menghendaki adanya penghabisan atas kelompok Hamas dan Hizbullah yang bermarkas di Libanon dan suriah.

Atas dasar itu pula, Israel beragumentasi bahwa kelompok Hamas dan Hizbullah dipandang sebagai gembong teroris yang karenanya sebagai alasan untuk melakukan bela diri. Tekad untuk menghabisi dan menghilangkan kekuatan Hamas dan Hizbullah dimanapun jelas sama dengan kebijakan politik Hitler, zaman kekuasaan Nazi Zerman atau Musolini di Italia yang mengusir habis Yahudi pada Perang Dunia II.

Dengan demikian, agresi Israel atas Libanon merupakan kejahatan akumulatif. Penerapan kedaulatan negara di luar kedaulatan teritorialnya yang berakibat pelaku dapat dijerat atau dikenai sanksi hukum berat bagi penguasa akibat kejahatan berlipat ganda, baik karena melanggar Piagam PBB, Hukum Perang dan juga Hukum Hak Asasi Manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s