BAHAYA LATEN TERORIS DI INDONESIA

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P.sdfootnote { margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in; margin-bottom: 0in; font-size: 10pt } P { margin-bottom: 0.08in } A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } –>

Insiden teror bom Mumbai, terjadi 26-29 November 2008 merupakan tragedi kemanusiaan India. Tragedi menakutkan ini telah menewaskan hampir 200 orang dan melukai lebih dari 500 orang-orang tak berdosa. Apa yang terjadi di Amerika tujuh tahun lalu, 11 September 2001, dan teror bom 22 Oktober 2002 di Bali telah menimbulkan rasa cemas masyarakat dunia. Tak terlupakan di mata masyarakat internasional.

Deretan persitiwa teror bom, termasuk di India baru-baru ini pelakunya dijumpai Muslim. Laskar Thoiba pelaku yang diduga terlibat. Ketegangan dan saling curiga timbul secara internal warga negara pelaku antara umat beragama tidak dapat dicegah. Sebagaimana masyarakat muslim di Bali lima tahun lalu. Secara kasat mata, ancaman perang India dengan Pakistan mengemuka. Pemerintah Pakistan tidak berkeinginan menyerahkan warga negaranya sebagai pelaku teroris tersebut salah satu sebabnya.

Kekerasan Vs. Pisau Bermata Dua

Kekerasan ibarat pisau bermata dua yang sama-sama berbahaya juga bermanfaat. Masyarakat tradisional (traditional society) kekerasan (violence) dapat bermakna instrumen penegakan hukum, berfungsi sebagai pengendali masyarakat (social control) pada tahap awal. Begitu juga sanksi hukum berubah pembahasan. Kekerasan dalam politik diakui wajar jika zaman itu, Machiavelli mendalilkan segala cara dalam merebut kekuasaan dihalalkan.

Munculnya hukum, dalam bentuk kesepakatan masyarakat (social contract) bermula dari situasi psikologis sosial dimana kehidupan manusia ibarat serigala saling yang saling menerkam (Hommo Homini Lupus). Kekerasan untuk mempertahankan kelangsungan hidup penting bagi manusia. Tingkah laku menyerang (attack) dan bertahan membela diri (self-defence) dan model yang melihat. Meskipun prinsip-prinisip kehidupan demokratis, dan peraturan hukum telah diperkenalkan, tatkala rasa keadilan sebagian umat manusia terhempas, kekerasan muncul sebagai panglima besar.

Sama halnya dengan teror bom sebagai fenomena global saat ini. Ketika nilai-nilai keadilan menjadi monopoli atau negara yang kuat, kekerasan dipergunakan sebagai senjata. Sosiologi kenamaan, seperti James Scott, mengingatkan the most powerful weapon of the powerless is violence. Tidak berbeda yang pakar teroris Amerika, Bard O’Neill, jika perang gerilya merupakan senjata kaum lemah, maka terorisme merupakan senjata umat manusia terlemah “if guerilla warfare is the weapon of the weak, then terrorsim is the weapon of the weaknest” (Tempo, Desember 2008).

Terhadap realitas sosial dimana teror menjadi model pertahanan diri mendorong pemerintah Indonesia menyikapi dan menangani fenomena terorisme? Pendekatan hukum internasional dan nasional jelas tidaklah akan memadai. Sebab konstruksi kedua bentuk huk tidak mengakomodir rasa keadilan masyarakat yang masih tercecer jauh lebih relevan diperhatikan. Sebab, tanpa kesadaran itu, isu terorisme hanya akan dipergunakan sebagai alat konspiratif yang menguntungkan negara-negara besar.

War on Terror Vs. Konspirasi Politik

Dalam praktek penegakan hukum internasional, perjanjian internasional bersifat multilateralistik tidak mudah diimplementasikan. Kedaulatan negara secara nasional lebih utama dijadikan pijakan. Sekurangnya enam puluh negara yang menandatanganinya kewajiban internasional akan menjadi tidak efektif mengikat. Karena itu, tidak mustahil jika teror bom 11 September di AS merupakan peristiwa pemicu perubahan struktur masyarakat dunia.

Berbagai upaya untuk mencegah dan memerangi teroris, sebagai kejahatan luar biasa telah dikumandangkan. George W Bush menemukan Osamah sebagai Mithas dan musuh kemanusiaan. Perang melawan teroris merupakan konspirasi politik, Osmah bin Ladin dijadikan kambing hitam scape-goat yang dapat membangun kesamaan persepsi masyarakat dunia akan bahaya teroris.

Memang cukup mengherankan, jik World Trade Centre, menjadi mercu suar masyarakat Amerika Serikat tiba-tiba ditabrak pesawat terbang teroris? Tragedi kemanusian sampai hari ini masih menyisakan pertanyaan besar. Menurut Prof David Gray Griffin, penulis buku: The 9/11 Commission Report: Omissions and Distortion, (2005:5) bahwa serangan 11 September direncanakan dan diperintahkan oleh Osamah bin Ladin. Tetapi, telah diketahui pemerintahan Bush dan Pentagon sebelumnya. Motif untuk menebarkan lebih luas perang melawan teror “war on terror” mengundang daya tarik dunia untuk memberikan pembenaran terhadap sikap ektrim terhadap negara-negara Islam, khusunya Afganistan dan Irak.

Dia juga pemerintah George Walker Bush secara aktif terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan serangan Septermber. Baik aparat keamanan atau intelejen yang sudah sebelumnya mengetahui membiarkan serangan itu terjadi. Hasil publik polling di Eropa dan Amerika mempercayai fakta serangan 11 September, merupakan persekongkolan kejahatan.

Hasil polling New York Times, 23-27 April 2004, ditemukan 56 persen masyarakat Amerika percaya bahwa pemerintah Bush menyatakan kebenaran fakta, tetapi menyembunyikan sesuatu di balik peristiwa 11 September, the American believed that the Bush Administration was “mostly telling the truth but hiding something about what it knew prior to September 11. justru sangat populer diketahui masyarakat Perancis, Italia dan juga Jerman.

The Wall Street Journal menegaskan bahwa Pemerintah AS sendiri yang memerintahkan serangan itu sendiri “The US government ordered the attacks itself”. Dipercaya temuan ini

No Teroris For SBY

Sejak Megawati sehingga SBY perjuangan memberantas teroris tidak pernah berhenti. Ketika teroris bom di Legian Bali, terjadi 22 Oktober 2002 telah menewaskan 280 banyak orang-orang asing. Kepolisian Densus 88, RI, dalam waktu, tidak kurang enam bulan, telah menangkap Amrozi, dan Ali Gufron alias Mochlas serta Imam Samudra. Dalam masa pemerintahan SBY, Komando Jendral Polri, Sutanto melakukan serangkaian operasi penangkapan puluhan teroris di Indonesia. Kecuali Nurdin M. Top, sampai saat ini masih berstatus Daftar Pencarian Orang, Dr. Azahari sebagai gembong teroris telah tewas dalam baku tembak dengan Densus 88, di Batu Malang 2006.

Pengganti Sutanto, Kapolri Jendral Bambang Djaenuari, telah melakukan penangkapan. Beberapa orang tersangka teroris di Palembang, Sumatra Selatan, Yogyakarta. Kapolres Semarang menemukan 4 kuintal bahan peledak tanggal 1 November. Mabes Polri Jakarta menangkap 5 orang tersangka yang akan meledakan bom di Depo Pertmina di Plumpang Jakarta Utara. Ditemukan serbuk TNT warna coklat 2673 gram Media Indonesia 23 Oktober 2008).

Pemerintahan SBY telah membuktikan dirinya tidak kompromi dengan pelaku bom teroris ketika Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra pelaku bom teror di Bali dieksekusi mati awal bulan November, 2008 di Nusakambangan. Suara-suara miring masyarakat Bali terhadap penundaan ekskusi mati tiga pelaku bom Bali berakhir sudah sejak eksekusi dilakukan. Namun eksekusi ini justru semakin menguatkan adanya bahaya laten teroris yang harus diperhatikan oleh pemerintah secara serius. Solidaritas dan empati dari orang tuanya, keluarga dan karib kerabat dan aktifis Muslim merupakan bukti yang cukup signifikan..

Dalam kebijakan perang melawan teroris, pemerintahan SBY memperhatikan pendekatan kedalam (inword looking) dan keluar. Di satu pihak, pendekatan inward looking meniscayakan negara memperhatikan kewajiban-kewajiban terkait dengan yurisdiksi dalam negeri. Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan aspek ekonomi, politik, sosial budaya, hukum dan pertahanan keamanan (Epoleksosbudhankam). Secara psikologis dan kriminologis, pelaku bom teror umumnya bukan penjahat dalam arti pelaku pencurian, pembunuhan, pemalsuan, pemerkosaan, perampokan, (ordinary crime). Orang orang yang memiliki idiologi sangat kuat dan patuh pada ajaran-ajaran agamanya, meski umumnya mereka menutup diri (religiously obedience, but socially alianated).

Kedudukan sosial ekonomi, pendidikan dan latar blakang sosial mereka umumnya marjinal. Pekerjaannya umumnya berada dalam sektor swasta yang tidak tetap. Organisasi teroris terselubung direncanakan dengan matang dan sistematis (well-plan, clandestine and sistematic). Termasuk, bagaimana Azahari, dan Noordin Top terus melakukan rekruting terhadap yunior-yunior baru. Para pengikutnya, dijumpai datang dari keluarga yang secara sosial, pendidikan dan ekonomi tidak stabil atau terpinggirkan.

Aktivitas teror timbul dalam keadaan negara sedang perang. Tetapi terjadi konflik vertikal atau konflik horizontal terus bertubi-tubi. Situasi agak rentan seperti permusuhan dalam negeri, antara pemerintah induk dengan kelompok-kelompok sosial dan bangsa yang tertindas. Mereka termasuk kelompok yang mau menggunakan hak-hak untuk memisahkan dirinya (self-determination rights).

Pemerintah SBY dan juga jajaran aparat penegak hukum hendaknya mengunakan pendekatan out-ward looking, suatu pendekatan preventif dan antisipatif terkait dengan untuk menguji keterkaitan geografis. Adanya interaksi antara wilayah geografis, wilayah internasional, wilayah regional, wilayah nasional dan cakupan lokal seyogyanya menjadi bahan pertimbanga. Tetapi, tidak dapat di generalisir..

Negara-negara Barat terutama yang sangat kuat di dalam percaturan politik internasional termasuk di PBB. Amerika Serikat, Inggris dan Perancis dan Australia. Sementara China dan Soviet Rusia tidak pernah terdengar menjadi ancaman teroris.

Target serangan adalah tempat keramaian, kantor pemerintahan/kedutaan asing, pusat pembelanjaan (public place or government office/diplomatict aganecies). Teroris tidak berpikir siapa dan berapa yang akan jadi jumlah korban tidak dapat antisipasi (unanticipated number of victims), korban harta kekayaan seperti gedung, dan korban bisa pelaku (suicide bombing) dan orang-orang biasa tidak berdosa (innocent people).

Ketrampilan meracik zat kimia TNT, C4, dan zat lainnya, termasuk menggunakan alat-alat senjata modern lebih merupakan import dari luar negeri. Ketiga, kelompok teroris bekerja dengan menggunakan jaringan internasional berbagai simpatik dan solidarits (transnational organized crime). dengan musuh utamanya adalah suatu kekuasaan yang tidak berkeadilan (join work to attack injustice strcuture with an independent responsibility).

Organisasi kalendestin, seperti Tentara Allah (Jundullah), Persatuan Islam (Aljamiah Al-Islamiyah), Al-Qaidah ditemui akar historisnya dengan kekuatan sipil-militer sewaktu mereka di Afganistan, Moro Pillipina, Singapura, Malaysia, juga konflik di Poso dan Ambon. Di pulau Jawa, Cicurug, Sukabumi, Lewi Liang, Banten, Cianjur, Bogor, Solo, Yogyakarta, Malang, Lamongan, Tulung Agung, Sulawesi Selatan, Ambon, Sulawesi Tengah, Poso.

Target politik tertentu (to gain certain political target) dengan berbagai ancaman perang psikologis yang menakutkan (fearful of psikological war) kekerasan dengan senjata, bom dan/atau senjata kimia, (used violent action and chemical weapon).

1 Jawahir Thontowi, sH, Ph. D, Dosen fakultas Hukum UII

2 thoughts on “BAHAYA LATEN TERORIS DI INDONESIA

  1. http://koranindependen.wordpress.com : Terorisme dapat muncul karena beberapa hal a.l : fanatisme keagamaan yang berlebihan, individu-individu yang termarjinalkan, dan keinginan mencapai sesuatu tujuan secara cepat dengan menyebarkan efek ketakutan terhadap publik sebelum mengarah pada objek sasaran sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s