MENYERET GEORGE W. BUSH DI PERADILAN INTERNASIONAL

Bagi umat Islam pernyataan Condolleeza Rice, Menlu AS yang menyayangkan tindakan serdadu AS memasukan AL-Quran di toilet-toilet belum dapat mengobati luka mendalam umat Islam. Setelah gelombang demo di negara-negara Islam seperti Afghanistan,n Turki, Maroko, Pakistan, Malaysia, Indonesia begitu meluas. Kemarahan umat Islam di Kirzigistan jauh lebih tragis, mengingat belasan kaum muslimin telah tewas. Praktek menempatkan Al-Quran di toilet dengan maksud menjatuhkan mental tawanan perang jelas merupakan konspirasi perpanjangan kebijakan politik pemerintah Bush. Dimanapun di dunia ini, serdadu-serdadu yang berada di lapangan, hanya melaksanakan tugas, atas perintah dari atasannya. Sehingga sangat mustahil jika pelecehan terhadap simbol agama seperti kitab suci tidak disertai faktor kesengajaan. Terhadap penghinaan dan kebijakan yang menyudutkan umat Islam tersebut, gagasan untuk menyeret George W. Bush ke Pengadilan bukan tanpa alasan. Pengingkaran Terhadap Hukum Internasional Apakah sikap reaktif umat Islam dewasa ini terkait dengan sejarah kegamangan masa lalu. Bernard Lewis membenarkan asumsi tersebut dengan mengatakan bahwa AS sebagai pemimpin Barat merupakan pewaris sah Kaisar Bizantium, Konstantinopel dan Kaisar Tanah Suci Roma di Vienna. Sebab, ketika itu, kekuasaan Romawi merupakan kekuatan pesaing umat Islam yang sangat menakjubkan peradaban manusia (Bernard Lewis. The Crisis of Islam : Holy War and Unholy Teror ; 2003, 160). Namun, suasana konflik Islam vs Barat ini juga telah dipertajam oleh pandangan Samuel Huntington tentang benturan peradaban antara Barat dan Islam yang kemudian disalahartikan. Kehadiran ekstrimis, seperti Osamah Bin Laden yang diklaim sebagai mewakili umat Islam dunia dan sekaligus memusuhi Barat meruapakan salah satu contoh. Namun, gagasan menyeret W.G Bush ke Pengadilan. Pandangan di atas boleh jadi sangat subjektif. Justeru pengingkaran AS terhadap hukum internasional dan HAM jauh lebih relevan meski tidak mudah diterapkan. Masih segar dalam ingatan kita, bahwa putusan Peradilan Internasional atas kesalahan invasi AS ke Nikaragua tahun 1981, di bawah Presiden Ronald Regen ditolak AS. Catatan buruk sejarah penegakan hukum internasional. AS terhdap Nikaragua dan Irak tersebut, disebabkan penggunaan kekerasan tidak memperoleh izin dari DK-PBB. Pembangkangan AS dan sekutunya terhadap hukum internasional tersebut, saat ini telah semakin jelas. Korban-korban manusia yang tewas di Irak, Afghanistan dan juga Pakistan merupakan akibat dari kebijakan nasional yang diterapkan di luar negeri, baik melalui intervensi politik, maupun melalui agresi militer. Dalam kasus agresi Irak 2002, puluhan ribu warga sipil Irak dan ribuan tentara AS, Inggris, dan juga Australia juga tewas. Belum terhitung kerugian material, sarana dan prasarana, dan gedung-gedung untuk kepentingan umum, termasuk warisan budaya zaman kuno telah musnah. Sehingga upaya menuntut pertanggungjawaban hukum terhadap AS, dan Presidennya bukanlah hal mustahil. Mengapa George W. Bush layak untuk dimintai pertanggungjawaban di depan Mahkamah Internasional. Dari segi hukum internasional, Presiden AS dipersalahkan terkait dengan agresi militer ke Irak yang tidak sah. Pasal 1, draft Piagam Pertanggungjawaban yang dikeluarkan oleh Komisi Hukum Internasional (International Law Commission) Agustus 2001 menyebutkan, Every internationally wrongful act of a State entails the international responsibility of that state. Untuk membuktikan kesalahan agresi AS tersebut cukup jelas mengingat pendudukan serdadu AS di Irak masih berlangsung samapai saat ini. Kegagalan AS dalam menengarai pertikaian di Irak adalah jelas merupakan kejahatan perdamaian, “War of Agression Constitute International Crimes Against Peace”. Kesalahan AS dalam perang Irak sebagaimana tertera dalam Piagam London 1945 pasal 6 antara lain terkait dengan perencanaan, persiapan, memulai mengobarkan perang agresi, dan melanggar ketentuan perjanjian internasional. William Shabach menyebutnya kejahatan agresi tersebut merupakan kejahatan ternista yang tidak dapat dibandingkan efeknya terhadap degradasi nilai-nilai martabat kemanusiaan. Kejahatan Terhadap Tawanan Perang Jika akhir-akhir ini, gelombang protes dan demo terhadap pemerintah AS di negara-negara Islam timbul kembali, peristiwa itu lebih merupakan akumulasi kemarahan terpendam. Fakta penghinaan dengan memasukkan al Qur’an dalam toilet, merupakan pemicu yang membangkitkan solidaritas Islam. Tindakan tersebut telah memicu lahirnya teror bom bunuh diri di berbagai negara-negara, khususnya di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Sensitifitas dan kemarahan umat Islam di negara-negara tertentu, dimana sentimen anti Barat vs Timur cenderung meningkat. Namun, relevansi persoalan dari segi hukum justeru pelanggaran serdadu AS di Guantenamo dan Abu Gharib terhadap Konvensi Jenewa 1949, dan Statuta Roma 1998. Kedudukan Agresi As ke Irak sebagai kejahatan kemanusiaan, disejajarkan dengan kejahatan genocida, kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan sebagaimana diatur dalam Statuta Roma 1998. Korban sipil yang tewas seperti wanita, orang-orang tua, anak-anak dan balita. Kondisi rumah sakit dan hotel dan tempat-tempat pengungsian turut hancur. Wartawan Al Jazirah, Tariq Ayub turut tertembak dalam serangan di Irak. Perlakuan tentara AS dan sekutunya terhadap data dia atas telah cukup membuktikan adanya pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum perang yang adil, Jus ad Bello. Fakta lapangan oleh Konvensi Genewa 1949 sebagai kejahatan atas perang dan tawanannya Kejahatan perang tersebut tampak dalam tindakan serdadu AS terhadap tawanan perang Irak di Abu Ghraib. Misalnya, The Daily Miror, The Guardiance, Televisi CBS, Amerika, telah mempertontonkan perlakuan yang tidak beradab dan di luar pri kemanusiaan. Seperti foto-foto tentang tawanan yang telanjang dan gambar-gambar tawanan perang yang memperkosa anak gadis Irak. Perlakuan tersebut tidak dapat dipungkiri telah melanggar konvensi Jenewa No : IV/1949, dan protokol tambahan 1977 tentang kejahatan tawanan perang. Sumber militer AS, Mayor Jenderal George Fay juga mengakui adanya laporan tentang pelanggaran kejahatan tawanan perang. Terhadap pelanggaran tersebut, pertanggungjawaban dapat dibebankan pada pelanggar atau pelaku termasuk pimpinan suatu negara. Karena itu, membebankan pertanggungjawaban hukum pada G.W Bush untuk diseret ke Pengadilan Internasional dimungkinkan. Memang Presiden AS tidak terlibat langsung dalam pelanggaran dan penghinaan terhadap umat Islam, tetapi peristiwa tersebut tidak pernah akan timbul jika G.W Bush tidak mengeluarkan kebijakan agresi ke Irak. Dalam konteks pidana internasional kejahatan agresi tergolong kejahatan kolektf dimana serdadu dengan Jenderal dan Presidennya telah turut serta atas timbulnya kejahatan. Lebih tegas lagi ketika, status agresi disejajarkan dengan pelanggaran HAM berat, adanya unsur sistematis, seorang pemimpin negara sangat sulit untuk lari dari pertanggungjawaban. Antonio Cassese Hakim Pidana Internasional menegaskan, bahwa seorang pemimpin dari suatu organisasi internasional, yang melakukan tindakan kejahatan, baik dalam pengetahuannya atau di luar pengetahuannya (ommission), wajib untuk mempertanggungjawabkannya secara individual. “That The Group or Organization Of Which The Individual was a member of criminal organization (Statuta Roma 1998). Dengan demikian, gelombang protes umat Islam dunia terhadap pelecehan al Qur’an dilakukan serdadu AS sebagai pemicu timbulnya ancaman perdamaian dunia. Namun, gagasan menyeret G. W. Bush ke Pengadilan Pidana Inateransional lebih dipengaruhi oleh perannya sebagai kepala negara yang secara kolektif turut bertanggungjawab atas kejahatan perdamaian, (Statuta Rma 1998)) dan kejahatan atas tawanan perang di Guantonamo dan Abu Gharib, Genewa Convention. 1949-Protokol II/1977. **

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s