Jawahir Thontowi Terima SK Guru Besar

Bertempat di Gedung GBPH Prabuningrat, Jawahir Thontowi, dosen Prodi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia pada Senin, 25 Januari 2010 menerima SK pengangkatannya sebagai guru besar Antropologi Hukum. SK pengangkatan Jawahir Thontowi ini diserahkan langsung oleh Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V, Prof. Dr. Ir. Budi Santosa Wignyasukarta kepada Rektor UII, dan diteruskan kepada Prof. Jawahir Thontowi, S.H., Ph.D. selaku guru besar.

Dalam sambutannya, Rektor UII menjelaskan dengan diterimanya SK guru besar ini, UII kini memiliki 19 orang dosen guru besar. Jumlah ini diharapkannya dapat terus ditingkatkan dimasa yang akan datang. Rektor bahkan optimis dalam lima tahun mendatang UII bisa memiliki hingga seratus guru besar mengingat saat ini sudah banyak dosen yang telah memenuhi kriteria untuk memperoleh gelar sebagai guru besar. Rektor juga menyampaikan bahwa raihan gelar sebagai guru besar jangan sampai menimbulkan stigma berhenti berkarya, karena pada dasarnya gelar ini justru menuntut seseorang untuk terus berkarya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, Dr. Ir. Luthfi Hasan, dalam sambutannya mengharapkan agar UII makin kuat dengan tambahan guru besar apalagi saat ini UII juga telah memiliki 68 orang dosen bergelar doktor. Jumlah ini dipastikan akan terus bertambah karena saat ini 106 orang dosen tengah menempuh pendidikan pascasarjana dan akan segera berangkat 20 orang lagi. Guru besar, bagi Ketum PYBW nantinya diharapkan mampu memberikan fatwa keilmuan sesuai dengan kebenaran akademik itu sendiri.

Menanggapi SK guru besar untuk Prof. Jawahir Thontowi, S.H., Ph.D., Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V, mengungkapkan harapannya agar dosen dan sivitas akademik UII mampu terus membantu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di DIY maupun di tingkat nasional. Tambahan guru besar ini diharapkannya juga akan makin meningkatkan mutu UII di mata masyarakat. Makin banyaknya para dosen UII yang berpeluang menjadi guru besar juga mendapat apresiasi dan perlu didukung dengan terus berkarya, karena pemerintah juga melakukan penilaian khusus secara berkala bagi guru besar.

Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V juga menjelaskan beberapa perkembangan terkait kondisi perguruan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta. PTS di Yogyakarta saat ini menurutnya menghadapi setidaknya dua problem utama yang dapat dibagi menjadi dua dimensi. Problem pertama menyangkut dimensi miskin dan kayanya suatu PTS dilihat dari jumlah mahasiswa, sedangkan problem kedua dilihat dari dimensi pandai atau tidaknya mahasiswa dalam PTS bersangkutan. PTS yang mengalami masalah miskin dan tidak pandai pada dimensi mahasiswa, menurutnya mau tidak mau bisa ditutup. Saat ini, telah ada dua PTS yang memiliki masalah dan berkonsultasi dengan Kopertis untuk kemungkinan penutupan.

Acara penyerahan SK guru besar untuk Prof. Jawahir Thontowi, S.H., Ph.D. kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kepala Pusat Studi Islam (PSI) UII, Dr. Muntoha. Selanjutnya Prof. Jawahir Thontowi, S.H., Ph.D. bersama ibu mendapat ucapan selamat dari Kopertis, pimpinan PYBW dan Rektorat UII, serta para tamu undangan.

Sumber: http://www.uii.ac.id/content/view/870/257/ Tuesday, 26 January 2010

UII Target Miliki 100 Guru Besar Dalam 5 Tahun

Rektor UII Prof Edy Suandi Hamid (kanan) ketika menyerahkan SK pengangkatan Guru Besar Antropologi Hukum kepada Prof Jawahir Thontowi (Kiri). (Foto: R

YOGYA (KRjogja.com) – Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mematok target miliki 100 orang guru besar selama 5 tahun kedepan. Pencapaian diimbangi dengan peningkatan tenaga pengajar yang memiliki jenjang doktoral atau S3 serta peningkatan perkembangan akademisi di kampus.

Saat ini UII memiliki dosen berpendidikan S3 sebanyak 68 orang, dan yang tengah meyelesaikan jenjang doktoral sebanyak 106 dosen. ” Sementara yang akan diberangkatkan menyelesaikan jenjang S3 dalam waktu dekat sebanyak 20 orang. Jika demikian, 5 tahun mendatang kita sudah memiliki tenaga pengajar doktor sebanyak 200 orang. Dan dari angka tersebut kita yakin bisa menargetkan 100 diantaranya mencapai guru besar,” ujar Ketua Yayasan Badan Wakaf UII Luthfi Hasan MS, dakam acara penyerahan Surat Keterangan (SK) pengangkatan Guru Besar Antropologi Hukum bagi Prof Dr Jawahir Thontowi, Senin (25/1).

Menurutnya, secara teori dengan banyaknya guru besar tersebut akan memperkuat posisi suatu institusi. Namun demikian, hal tersebut juga harus diimbangi dengan lebih banyaknya karya yang dihasilkan.

”Sudah guru besar bukan berarti berhenti. Tetapi ada peraturan pemerintah yang mengatur bahwa guru besar harus tetap berkarya dan setiap waktu tertentu dan akan ada penilaian tentang keilmuannya. Evaluasi dilakukan dari tingkat fakultas hingga menteri,” ungkapnya.

Sementara itu, Rektor UII Prof. Edy Suandi Hamid menyatakan, dengan didapatnya SK pengangkatan guru besar bagi Jawahir Thontowi tersebut maka saat ini UII memiliki guru besar sebanyak 19 orang. ”Prof Jawahir merupakan guru besar yang ke 19 yang dimiliki UII, seharusnya ke 20, namun satu diantaranya sudah meninggal dunia,” katanya.

Ia berharap guru besar semacam ini, bukan lantas pengabdiannya selesai. Namun justru awal pengabdian kembali dimulai. “Meski sudah menjadi guru besar, kedepan masih wajib menghasilkan karya-kaya yang berguna bagi sisi keilmuannya,” imbuhnya. (Ran)

Sumber: Click Here

UII Sukses Gelar Pemilihan Balon Rektor

Penghitungan suara untuk bakal calon rektor UII periode 2010-2014 selesai dilakukan Panitia Pemilihan, pada Kamis (21/1) sore. Penghitungan suara dari semua Tempat Pemungutan Suara (TPS) dilakukan di ruang sidang Badan Wakaf UII Lantai 2 Jalan Cik Di Tiro. Dihadiri oleh Ketua Panitia, Drs. Muqodim, MBA., Ak. Wakil Ketua, Nurjihad, SH., MH, Sekretaris Panitia, Edy Widodo, S.Si., M.Si, serta para penanggungjawab TPS, penghitungan suara dilakukan secara terbuka di depan para undangan yang terdiri dari staf pengajar UII dan juga media massa.

Dari hitungan yang dilakukan panitia, lima bakal calon rektor UII periode 2010-2014 berhasil ditetapkan oleh panitia sesuai dengan aturan pemilihan. Kelima Balon tersebut adalah, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. (229 suara), Prof. Ir. Sarwidi, MSCE., IP-U (137 suara), Prof. Jawahir Thontowi, SH., Ph.D (93 suara), Ir. Mochammad Teguh, MSCE., Ph.D (70 suara), dan Achmad Sobirin (38 suara).

Data perolehan suara lima besar bakal calon Rektor menunjukkan dari 9 TPS yang ditentukan, terdapat 4 titik yang menjadi lumbung suara Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., yaitu di Rektorat (41 suara), FE (89 suara), FTI (28 suara), dan FK (16 suara). Adapun perolehan suara terbanyak untuk Prof. Ir. Sarwidi, MSCE. Ph.D., IP-U., didulang dari TPS di FMIPA (16 suara) dan FPSB (16 suara). Sedangkan Ir. Mochammad Teguh, MSCE., Ph.D., meraih suara terbanyak dari TPS di FTSP (38 suara). Prof. Jawahir Thontowi, SH., Ph.D yang merupakan dosen tetap FH UII, memperoleh suara terbanyak di dua TPS, yaitu di FH (48 suara), dan FIAI (17 suara).

Hasil ini langsung dirilis Panitia Pemilihan sesaat setelah penghitungan suara dilakukan. Dalam jumpa pers yang diselenggarakan setelahnya, Ketua Panitia, Drs. Muqodim, MBA menjelaskan bahwa dalam proses pemilihan, tidak semua pemilih menggunakan hak pilihnya. Dari 758 orang yang memiliki hak pilih, tercatat sebanyak 653 sivitas akademik UII yang menggunakan hak pilih dalam pemilihan balon Rektor tersebut. Dengan demikian, terdapat 105 orang (14%) yang tidak menggunkan hal pilihnya. “Melalui pemilihan ini, terlihat partisipasi pemilih dalam pemilihan calon rektor ini sangat tinggi”, ujar Ketua Panitia menilai.

Absennya 14 % dari pemilih ini, jelas Muqoddim lebih lanjut, disebabkan oleh beberapa hal. Tenaga pengajar atau dosen yang merupakan elemen terbesar absen dalam pemilihan ini (21% atau 85 pemilih), sedang banyak menempuh studi Strata-3, baik di dalam maupun di luar negeri. Sementara perwakilan mahasiswa yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya (14 orang) disebabkan karena tidaklengkapnya syarat administrasi pemilih, seperti KTM atau kartu undangan sebagai syarat. “Tidak ada tindaklanjut untuk hal ini, dan kita anggap gugur”, katanya.

Source: Click Here