Perlindungan Hukum Benda Cagar Budaya Lemah

Pemerintah Dianggap Tidak Serius

SLEMAN– Direktur Center of Local Law Development Studies (CLDS) UII Prof  Jawahir Thontowi menyatakan, perlindungan hukum dan pelestarian terhadap benda cagar budaya (BCB) di Indonesia sangat lemah.Terlebih lagi, sangat sedikit pakar maupun peneliti museum yang mendalami mengenai BCB. Itu dibuktikan dengan maraknya kasus pencurian BCB. Bagi Jawahir, itu menunjukkan ketidakseriusan pemerintah dalam upaya melindungi benda-benda peninggalan nenek moyang yang tidak ternilai harganya.“Selama ini keberadaan benda cagar budaya tidak dilihat sebagai sebuah ancaman,” ungkap Jawahir kemarin (15/1). Kondisi itu, lanjut pakar hkum UII ini, membuat nyaman para mafia pelaku black market BCB. Misalnya, penggelapan arca Ganesha di Batang, Jawa Tengah 2008, pencurian 75 item koleksi emas di Museum Sonobudoyo, Jogjakarta dan kasus jual beli fosil purba di Sangiran pada 2010. Hingga pencurian benda bersejarah di Museum Radya Pustaka yang kemudian digantikan barang tiruan atau dipalsukan.Ironisnya, sebagian penyelidikan kasus “hanya” dilakukan petugas PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil). “Seharusnya polisi melakukan tindakan represif. Itu mutlak,” tegasnya.Namun, jika polisi sendiri tidak paham tentang kecagarbudayaan, tentu penindakan tidak bisa efektif. Harus ada political will dari pemerintah mengenai masalah tersebut.Menurut Jawahir, benda cagar budaya harus jadi isu strategis. Yang didukung instrument hokum, sumber daya manusia, dan alokasi anggaran. Jika perlu, diperkuat dengan peraturan daerah masing-masing jika pemerintah pusat tak bisa melindungi BCB. “Itu mutlak jadi tugas pemerintah,” ujarnya.Atas keprihatinan kondisi tersebut, CLDS UII bakal menggelar simposium internasional dengan tema “Reactualization of International Law in Protecting Archeological Properties and its Implication Towards the Cultural Heritage Law in Indonesia”. Simposium digelar 21 Januari 2014 di kampus terpadu UII.Rektor UII Prof Edy Suandi Hamid menambahkan, simposium tersebut sebagai sarana reaktualisasi hukum BCB. Edy mengajak masyarakat peduli dan turut mengamankan segala bentuk BCB. Seperti dilakukan pihak UII terhadap Candi Situs Kimpulan yang ditemukan 11 Desember 2009.Edy mengatakan, benda cagar budaya notabene mengandung nilai kearifan lokal tinggi yang harus direspon serius untuk dilindungi dan dilestarikan oleh semua pihak. Tidak hanya pemerintah yang wajib turun tangan, perguruan tinggi juga dituntut berkontribusi dalam konteks tersebut. (yog/din)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id/perlindungan-hukum-benda-cagar-budaya-lemah/ Jan 16, 2014 risan1 rada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s