Merumuskan Grand Design Program Pemerintahan Mendatang

Ilustrasi (Foto:Dok)

YOGYA (KRjogja.com) – Pemilihan Presiden dan Wakilnya merupakan momentum, untuk mengobati kelemahan hasil Pileg yang lalu. Bagi umat Islam, peluang mengobati kelemahan di legislatif ini adalah memilih seorang presiden dan wakilnya yang memiliki karakter, bersih, berani, merakyat, dan juga memiliki mimpi untuk mengusung ideologi keberpihakan pada rakyat yg tertindas. 31,80 persen suara ummat Islam, yg dapat dijadikan tiket untuk Capres dan Cawapres. Namun, tampaknya kondisi parpol Islam sesungguhnya sama saja terjebak pada perjuangan kepentingan pribadi atau kelompok elit.

“Presiden dan wapres yang akan datang harus bisa memikirkan penderitaan kaum marjinal atau mustad’afien. Karena itu, Capres¬† RI yg dipilih ke depan adalah berani melakukan terobosan. Suatu kebijakan politik dan hukum, yang secara langsung berpihak pada hubungan antara realisasi, tujuan negara, secara¬† khusus realisasi Pasal 33 dengan Pasal 34 UUD 1945,” jelas ketua Centre for Local Development Studies (CLDS) FH UII Prof Jawahir Thontowi SH PhD kepada Pemred Kedaulatan Rakyat (KR) Drs Octo Lampito MPd, Kamis (24/4/2014) di redaksi KR.

Dengan dasar pemikiran tersebut, Solidaritas Muslimin Indonesia (SOMASI) bersama CLDS akan mengadakan “Dialog Publik Poros Keummatan Jogja-Jakarta dalam Pencerahan Pilpres 2014”. Dialog akan diadakan di Auditorium UII lantai 3 Cik Ditiro Yogyakarta, Jumat (25/4/2014) mulai pukul 19.00 wib.

Pembicara dalam dialog tersebut adalah, Ir H Abdullah Hehamahua SH MH (Penasehat KPK), KH Amidan SH (Ketua MUI), Drs H Saparuddin Alwi MSi (Ketua Dewan Pembina Badan Wakaf UII), Prof Dr Mahfud MD SH MH (Ketua Presidium MN KAHMI), Anies Baswedan PhD (Rektor Universitas Paramadina), Prof Dr Musya Asy’arie MA (Rektor UIN Sunan Kalijaga) dan Drs Octo Lampito MPd (Pemred SKH Kedaulatan Rakyat). (*-27)

 

Sumber: http://krjogja.com/read/213502/merumuskan-grand-design-program-pemerintahan-mendatang.kr , Danar Widiyanto | Kamis, 24 April 2014 | 15:10 WIB