Umat Islam Membuktikan Bisa Menerima Perbedaan Politik

WARGA berebut bersalaman dan sungkem kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X usai melaksanakan salat Idul Fitri di Alun-alun Utara Yogyakarta, Senin (28/7/2014).* MUKHIJAB/”PRLM”

YOGYAKARTA, (PRLM).- Ketua Yayasan Budi Bakti dan Penasihat Paguyuban Warga Jawa Barat di Yogyakarta Prof Jawahir Thontowi, SH, PhD menjadi imam dan khatib dalam salat Idulfitri 1435 H/2014 di Alun-alun Utara Yogyakarta, Senin (28/7/2014). Pria kelahiran Bandung, 8 September 1958 tersebut di hadapan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan ribuan jamaah menyampaikan tausiyah tentang ketangguhan umat Islam dalam menghadapi perbedaan politik selama proses pemilihan umum presiden 2014.

Menurut guru besar hukum antropologi hukum Universitas Islam Indonesia tersebut, umat Islam berperan besar dalam menciptakan kedaimaian pada pemilihan dan pasca pemilihan presiden 9 Juli 2014. Dengan sikap umat Islam yang dewasa dan menerima sikap politik dan perbedaan pilihan calon presiden, pemilihan presiden yang dikhawatirkan berakhir dengan konflik dan kekerasan bisa berakhir dengan aman.

“Pemilihan presiden pada 9 Juli 2014 telah membuat masyarakat dan keluarga terbelah menjadi dua pilihan emosional. Akhirnya hasil pemilihan bisa diumumkan pada 22 Juli, tanpa gejolak apapun. KPU Akhirnya menetapkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf ZKalla sebagai presiden dan wakil presiden 2014-2019. Kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu angkara, sebagai salah satu spiritualitas dari puasa, menjadi kunci sukses pemilihan presiden,” kata dia.

Ketika pasangan presiden terpilih dilantik dan bertugas, Jawahir berharap Presiden Joko Widodo mempososikan umat Islam sesuai kapasitasnya, jangan sebaliknya meminggirkan umat Islam. Bagi umat Islam, kata dia, pengayaan dan penguatan komitmen berbangsa akan terjadi jika Islam menjadi umat terdepan di Indonesia untuk mengamalkan nilai-nilai universitas kemanusiaan dan moral dalam berbangsa.

Menurut dia, umat Islam selalu mengakomodasi perubahan zaman yang modern. Karena itu, dia berharap pemerintah baru jangan salah mudah curiga dengan uamt Islam yang memiliki kesadaran tinggi dalam mengamalkan ajaran agamanya, tidak langsung menuduh ekstrim.

“Presiden dan wakil presiden 2014-2019 harus mampu menghilangkan stigma Islam terorisme, jangan berlaku zalim di saat umat Islam ingin melaksanakan ajaran agamanya,” harapnya.

Dia berharap terjadi rekonsiliasi nasional pasca pemilihan presiden, dengan jalan pasangan calon presiden dan pasangan calon presiden yang kalah saling berangkulan, menerima kemenangan dan kekalahan. (Mukhijab/A-147)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/290966

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s